SOLUSI MISKOMUNIKASI DAN MISPERSEPSI*

SOLUSI MISKOMUNIKASI DAN MISPERSEPSI

Ada sebuah cerita ilustrasi antara kera dengan ikan. Kedua makhluk ini biasanya tiap pagi bercengkerama. Kera di atas pohon dan ikan di sungai bawah pohon. Suatu ketika terjadi banjir kiriman karena di daerah sebelah terjadi hujan. Air sungai meluap dan arusnya cukup deras. Si ikan meloncat-loncat mengimbangi derasnya air sungai. Dalam persepsi si kera, ikan tersebut minta tolong. Lalu ketika ikan meloncat keatas didekaplah ikan tersebut sambil berkata, “Tenanglah!engkau aman, selamat dalam dekapanku, kau tidak akan terhanyut oleh derasnya banjir sungai ini.” In short story, banjir mereda, arus sungai pun kembali tenang. Dan kera pun melepaskan ikan dari dekapannya ke sungai. Tetapi apa yang terjadi? ikan itu mati! Seperti kiasan ingin menyelamatkan, tetapi karena miskomunikasi dan salah persepsi, hasil yang dituai; fatal, mati!

Miskomunikasi di persahabatan maupun dikeluarga sering terjadi, bukan karena masalah idiologi yang berbeda atau bab mabda yang salah. Tetapi biasanya karena salah kata, beda persepsi dan beda hobi ini yang menjadi trouble. Dan ketika ingin memperbaiki tetapi salah menyampaikan meski berangkat dari perasaan cinta dan kasih sayang, bisa berubah permusuhan dan kebencian. Itikad yang baik tidak cukup untuk membawa perubahan yang baik meski perkara yang kita kemukakan seluruhnya baik.
Oleh karena itu mukjizat penutup segala Nabi adalah kata-kata yang terangkum dalam Al-Quran, bukan tongkat yang membelah lautan, atau kapal induk seperti Nabi Nuh dengan daya angkut ribuan ton, atau mukul jarak jauh sambil keluar asap. Bukan itu. Oleh karena itu anda akan selamat dalam hidup ini bukan karena mempunyai tongkat wasiat, bukan kuat dibakar api, kebal dll. Bukan itu, tetapi menggenggam dan menggigit Al-Quran yang dijadikan juklak dan juknis dalam hidup.

Dalam riwayat Tirmizdi dan Ibnu Majah Nabi Muhammad pernah bersabda,” Aku wasiatkan kepada kalian agar selalu bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan mentaatiNya walaupun yang memerintahkan kamu itu berasal dari seorang hamba, sesungguhnya barang siapa diantara kamu yang hidup pada masa itu, maka akan menjumpai banyak perselisihan, maka ketika itu kalian harus berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk sesudahku, pegang dan gigitlah dengan gigi gerahammu kuat-kuat. Dan sekali-kali janganlah menciptakan dan mengada-ada hal baru dalam agama (tidak ada bi’ah yang baik dalam hal akidah dan syariah; semua haram dan tercela), karena setiap pengadaan hal baru dalam bidang agama itu bid’ah dan setiap bid’ah sesat”. (HR. Muslim).
Begitu besarnya kekuatan kata, sampai-sampai Al-Qur’an memberi petunjuk tentang bagaimana mengungkapkannya. Secara prinsip, gunakan qaulan layyinan (perkataan yang menyentuh hati) bila menghadapi seperti Fir’aun, yang keras kepala, merasa paling benar, dan tidak mau disalahkan.
“Sesungguhnya kelembutan itu apabila ada pada sesuatu, ia akan memperindahnya, dan apabila tercabut dari sesuatu maka akan tercelalah dia.”(HR.Muslim).

Perubahan dari yang keliru menuju yang benar, dari yang tercela menuju kepada yang terpuji, dari yang jelek menuju kepada yang baik tidak bisa sekaligus. Tetapi butuh tahapan. Mulailah dari yang termudah, mulailah dari yang terkecil, mulailah dari sekarang, dan mulailah dari diri sendiri. Mengharapkan perubahan secara drastis, mengharapkan perubahan sosok seseorang menjadi pribadi yang ideal, sama halnya dengan menyuruh minum jatah obat flu satu minggu dalam sekali teguk. Tetapi sekalipun demikian, apabila anda sudah seratus kilo meter berjalan, sudah sedemikian jauh, jika sadar pada detik itu anda salah jalan atau tersesat, segeralah rubah haluan hidup anda detik itu juga dan langkah itu juga jadikan langkah terakhir untuk segera menempuh arah baru yang lurus dan benar.
Ledakan emosi acapkali bukan karena disebabkan perkara yanng besar. Kemarahan orang tua kepada anak bukan karena mereka nakal, tidak juga karena anak menetang kita. Anak yang belum dewasa tidak ada yanng menentang orang tua. Mereka hanya meniru perilaku orang tuanya. Bagaimana cara kita memandang peristiwa sangat mempengaruhi perilaku kita terhadap peristiwa itu. Alhasil, kita perlu hati-hati dalam soal cara memandang ini. Karena salah dalam cara memandang, anugerah bisa jadi bencana, nikmat bisa dianggap laknat.

Ada cerita anekdot, ketika beberapa orang wanita sedang serius membincangkan tipe suami ideal, sampailah kepada seorang yang menginginkan tipe suami yang ia harapkan, diantaranya; calon yang diharapkannya mampu menghiburnya dikala sumpeg, bisa bernyanyi, bila malam setia menemani di rumah, tidak pernah marah, dan bisa diam bila tidak ingin mendengarnya. ”Temannya menyela, ”saya kira yang kamu inginkan Televisi bukan suami.”(nyambung gak ya dengan pembahasan ini? hehehe…ben wes)

Sebagaimana membangun rumah, demikian juga dengan membangun rumahtangga dan persahabatan. Apabila pondasinya mantap maka bangunannya akan kokoh. Rumahku surgaku akan keluar dari penghuni rumah tersebut. Rumah surga bukan yang perabotan dan fasilitasnya lux dan lengkap, bukan rumah yang mewah dan bertingkat. Bukan minta segala sesuatu selalu ada dan tersedia. Kalau demikian halnya tentu tidak akan keluar dari mulut Nabi Muhammad; ’Rumahku Surgaku’ karena dirumah Nabi tidak ada perabotan yang bisa dikatakan mewah, alas tidurnya pelepah kurma yang disusun rapi dan selimutnya dari kulit binatang yang disemak.

Seseorang yang memandang persahabatan sebagai amal saleh untuk menabur kebajikan, hatinya akan lebih lapang memandang berbagai masalah. Seseorang yang menuntut pasangannya serba sempurna akan sering menuai kekecewaan. Semakin tinggi harapan, apabila kalau tidak realistis maka akan semakin besar kekecewaan yanng didapat. Dibalik kekurangan pasangan ataupun sahabat kita disisi yang lain mengandung banyak kelebihan (QS. An-Nisaa’:19)
Pada sebagian persahabatan menganggap bahwa masalah yang terjadi di dalam lika-liku persahabatan selalu membangkitkan kekecewaan. Sementara itu apa yang mengecewakannya, terkadang bukan teman kita yang tidak beres, melainkan karena pengharapan yang tidak seimbang. Seseorang hanya menabung harapan tanpa menyelaraskan dengan kewajaran.

Trouble di dalam persahabatan ataupun dalam keluarga sering terjadi karena masalah komunikasi yang tidak berjalan, mis komunikasi dan mis persepsi, oleh karena itu hindari hal-hal berikut:
1. Jangan memotong pembicaraan pasangan atau teman anda. Dengarkan, simak dan perhatikan uneg-uneg atau apa yang ingin diutarakan oleh pasangan atau teman anda tersebut, jangan dipotong pembicaraannya. Secara psikologis empati yang diberikan untuk mendengar telah menyelesaikan 50% masalah.

2. Jangan membuat pernyataan atau jawaban yang membingungkan sehingga sahabat atau pasangan kita akan buat persepsi sendiri karena ketidak lengkapan dan akuratnya pernyataan kita sewaktu ada masalah, apalagi setelah tau persepsi itu salah lalu membiarkannya tanpa ada penjelasan, akan semakin meyakinkan bahwa hal itu benar dan semakin memperbesar masalah.

3. Jangan menghakimi; ibarat baca buku, baru baca kata pengantar sudah menyimpulkan sekaligus memberi cap secara keseluruhan pada isi buku tersebut. Termasuk tidak bisa menentukan seseorang dari hanya sekedar melihat wajah dan penampilan untuk menentukan tabiat dan karakternya.

4. Jangan Over dosis nasehat; Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang tidak tepat, setiap ketemu dengan sahabat atau pasangan anda keluar petuah seakan tidak pernah benar, nasehat seperti itu akan berbalik menjadi keburukan. Petunjuk yang diterima dengan perasaan kesal akan diterima sebagai intimidasi dan ancaman.
5. Jangan berebut perhatian, berlomba berbicara dengan tanpa ingin saling mendengar apa yang diutarakan, akan semakin menahan dongkol bahkan akan saling meninggikan suara lebih heboh lagi. Ujungnya melahirkan kekecewaan yang melahirkan masalah baru.

6. Benar-benarlah tulus dalam bersahabat, jangan hanya mencari manfaat atau memanfaatkan untuk kepentingan sendiri. Bila tidak bermanfaat lupa bila menjadi sahabat. Ada sebuah pesan yang tertempel di pintu kamarku ” Tidak ada baiknya berteman dengan orang yang tidak menghargai hakmu sebagaimana engkau menghargai haknya.”

7. Jangan katakan atau melakukan perbuatan/bahasa tubuh yang menyatakan “Aku adalah sahabat terbaikmu tuk sekarang dan masa depan” bila kau tidak benar-benar tulus dan peduli. Jangan bicarakan soal perasaan-perasaan bila itu tidak benar-benar ada. Jangan kau sentuh hidup seseorang bila kau berniat mematahkan hati. Jangan menatap ke dalam mata bila apa yang kau kerjakan Cuma berbohong dan hanya ingin mendapatkan manfaat. Hal terkejam yang biasa dilakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta, padahal kau tidak berniat sama sekali tuk menerimanya saat dia terjatuh.*

8. Mari kembali pada Islam

* Dirangkum, ditambah dan diedit dari buletin Suara Pemuda Muhammadiyah Kab. Malang 2008
* Untuk sahabatku ”maafkan aku, atau cintai dan bencilah segala sesuatu karena Allah, pasti kamu tidak akan kecewa di kemudian hari” karena Dunia tidak mesti, tapi akhirat sudah menanti dengan pasti.
*Untuk Mbak ku, jazakumullah atas semua nasehat-nasehatmu selama ini.

Dicintai ALLAH kah dirimu? Atau……..

Kisah ini kubaca disebuah majalah Islam entah aku lupa nama majalah itu tapi aku masih sangat ingat dengan isi cerita yang menggugah hatiku. Semoga kisah ini bisa membuat kita sama-sama muhasabah diri.
Pada suatu hari di jaman Rosulullah waktu itu semua sahabat berkumpul bersama Rosulullah, lalu Rosul membuka sebuah cerita: ”Ada sebuah jaman sebelum kamu, diceritakan bahwa ada 2 orang raja yang mempunyai sifat yang saling bertentangan. (maaf nama 2 raja itu aku lupa)sebut saja raja 1 bersifat jahat, sewenang-wenang dalam memerintah, suka memeras rakyatnya dalam menjadi raja, praktisnya dia menjadi raja ingin dilayani bukan ingin melayani, ingin memakmurkan diri bukan memakmurkan rakyat yang menjadikan dia disebut raja.
Raja 2 bersifat kebalikan dari raja 1, orangnya baik, bijak, rendah hati, selalu mementingkan kemakmuran rakyatnya, raja 2 mengerti bahwa sebuah jabatan akan dipertanggungjawabkan nantinya dihadapan sang maha Raja.
Suatu hari kedua raja itu sakit keras, gejala sakit dari kedua raja itu sama dan hampir semua tabib istana sampai tabib desa dikumpulkan, tetapi semua tidak bisa menyembuhkan sakitnya.
Kita masuk ke kasus sakitnya raja 1, setelah semua tabib dikumpulkan akhirnya ada salah satu dari tabib raja 1 itu mendapat petunjuk dari Allah bahwa bila ingin sakitnya sembuh disuruh mencari sejenis ikan yang hidupnya ditengah lautan. Diperintahkan semua prajuritnya untuk mencari jenis ikan tadi, anehnya waktu itu jenis ikan tersebut belum musimnya untuk keluar, tetapi oleh Allah dimudahkan sehingga prajurit dari raja 1 bisa dengan mudah mendapatkan ikan yang dicari. Setelah makan ikan tadi sembuhlah raja 1 yang jahat tadi.
Nah raja yang ke 2 diceritakan bahwa juga mengalami sakit serupa dengan raja 1, setelah dikumpulkan semua tabib akhirnya diputuskan untuk juga mencari sejenis ikan yang hanya ada ditengah lautan. Kebetulan waktu raja 2 sakit sedang musimnya ikan yang bisa dijadikan obat tadi, tapi anehnya tidak ada se’ekorpun ikan yang seharusnya sedang musim keluar untuk ditanggkap. Akhirnya raja 2 tidak bisa sembuh dan akhirnya meninggal karena sakitnya.
Malaikat bertanya kepada Allah :”kenapa raja yang jahat malah dipermudah mendapat kesembuhan sedang raja yang baik hati malah mati dalam sakitnya. Allah yang maha Adil menjawab: raja 1 walaupun dia jahat, sering menyakiti rakyatnya yang sesungguhnya juga menyakiti Aku, tapi raja 1 pernah berbuat sedikit kebaikan di dunia sehingga kubalas ia langsung di dunia, sehingga bila saatnya dia ke akhirat tidak sedikitpun dia membawa kebaikan, sehingga nerakalah tempatnya.
Raja 2 walaupun dia baik hati, selalu berusaha agar rakyatnya hidup makmur, selalu bersikap sederhana, rendah hati, tidak sombong tapi dia pernah melakukan sedikit dosa sehingga kubalas dosanya itu di dunia, sehingga bila sudah saatnya dia menuju akhirat, tidak ada sedikit kejelekan yang ia bawa, sehingga surga adalah sebaik-baiknya tempat baginya.

Saudara-saudaraku dari cerita yang disampaikan Rosulullah tadi mari kita mengambil pelajarannya. Marilah kita muhasabah diri, apa yang telah kita lakukan di dunia ini, apa yang kita perbuat pada saudara-saudara kita. Kadang kita sering menyakiti hati mereka, kadang kita tanpa sengaja menghina ciptaan Allah sehingga merasa bahwa kita lebih baik dari mereka. Tapi kadang urusan dan doa-doa kita dipermudah dan cepat dikabulkan oleh-Nya. Coba anda baca jawaban Allah dalam kisah tadi. Jangan sampai kita seperti raja pertama yang sesungguhnya banyak dosa tapi dipermudah Allah dalam segala urusannya, selalu ada yang ia minta karena seorang raja, tapi akan sengsara di akhirat-Nya yang pasti dan abadi. Dalam istilah syar’i namanya ”istidrat” atau apa yang kita minta diberi oleh Allah yang sesungguhnya kita dibuat lupa akan kehidupan akhirat karena sudah terlalu sibuk dengan kehidupan dunia.
Saudara-saudaraku, dalam sebuah kajian yang pernah penulis ikuti, diceritakan oleh Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam sebuah kitabnya bahwa ada seorang hamba Allah yang hidup 500 tahun. Selama itu ia mengisinya dengan full solat. Sewaktu di akhirat karena rahmad Allah dia disediakan surga. Tapi dia ingin apa yang dia lakukan dihitung. Allah lalu memerintahkan malaikat menghitungnya. Setelah dihitung diketahui bahwa nilai solatnya selama 500 tahun hanyalah bernilai sebelah matanya. Bagaimana dengan kita????
Saudara-saudaraku, mari mulai sekarang kita perbaiki hati, perbaiki diri, sadar dan menyadari dan setelah itu lebih hati-hati.
Astaghafirullah….. Astaghafirullah….. Astaghafirullah….. ya Allah ampunilah semua dosa-dosaku yang disengaja maupun tidak, hambamu penuh dosa, hanya rahmatMulah yang bisa menyelamatkan aku nanti di akhiratMu.
Saudara-saudaraku maafkanlah semua salahku sehingga bisa meringankan bebanku dalam menghadap kehadiratNya

Manisnya Gula hanya Terasa setelah Merasakan Kepahitan (Jalaluddin Rumi)

Hayalan ingin dia Nyata

“Kayalan, kita tau ingin dia nyata, senang dan bersama itu yang disuka, sedih dan sendiri itu jadi duka, benar teman sejati tinggalah sepi, bersama berujung sendiri, saat sendiri kita tau siapa diri ini”.
Subhanallah sebuah sms ku terima dari seorang ustzah, dikala hati ini lagi galau dan sedih. “saat sendiri kita tau siapa diri ini” kalimat terakhir di sms tadi menggugah hatiku.
Benar, saat-saat sepilah saat yang bagus untuk muhasaabah diri, muhassabatunafs, Terkadang hati punya keinginan banyak sekali, ingin kaya, ingin segala sesuatu ada, ingin materi dunia dan ingin apapun yang kita ingini menjadi nyata.
Terkadang kita lupa akan keberadaan akan hidup sesudah mati, terkadang kita menafikan ada kebahagiaan yang hakiki, kita sering sibuk dengan urusan duniawi, bahkan dalam pikiran kita hanyalah bagaimana besuk…………., lusa………….satu tahun lagi…………. , jarang kita berfikir bagaimana nanti kita di akhirat……….,ya akhirat…………, coba hari ini kita tanya pada hati nurani, coba hari ini kita lupakan sejenak kehidupan dunia, ya akhirat, apakah itu akhirat, bagaimanakah keadaan di akhirat, apakah yang terjadi dengan diri kita di akhirat.
Seorang ulama besar pernah berkata “aku melihat surga, orang lain berkata: bagaimana engkau melihat surga”? beliau menjawab:aku melihat surga dari mata Rosullulah, karena mata Rosullulah tidak akan menipu, menambah dan menguranginya”. Ya kita harus yakin dengan adanya surga (bila tidak yakin perlu dipertanyakan keIslamannya)dimana semua kenikmatan di dunia tidak ada apa-apanya di surga.
Nah yang kita tanya pada diri kita sekarang apakah anda percaya surga beserta keindahan dan kenikmatannya? Tentu kita menjawab “percaya”nah kalau percaya apakah anda ingin ke sana?”ya jelas ingin”. Lalu apakah yang kita lakukan adalah termasuk cara menuju kesana………….? Mari kita Tanya nurani masing-masing saudara-saudaraku.

Tasbih Cinta*

TASBIH CINTA

Kuharap hari ini lebih baik dari hari kemarin. Walau Einstein mengatakan bahwa masa depan dan masa lalu itu hanyalah ilusi manusia semata, tetapi aku percaya, waktu bisa menjadi teman terbaik, jawaban terjujur di kala kita menjadi sakit dan terpuruk. Jimmi Hendrik, musisi legendaris itu berkata bahwa apa yang kita lakukan untuk diri sendiri akan dibawa mati, tetapi apa yang kita lakukan untuk orang lain dan dunia akan tetap abadi.

Langit tahu
betapa aku mencintaimu …
betapa aku merindukanmu …

berharap kau mengerti kasihku
berharap kau memahami kasihku
tataplah langit itu
maka bintang-bintang akan membisikimu

tentang diriku …
tentang cintaku …
sebab sayang dan kasihku memang untukmu

Tasbih Cinta.
Sebuah tasbih adalah sebuah kehidupan. Berawal dan berakhir di titik yang sama. Bukan tasbih namanya, jika hanya terdiri dari satu butir. Bukan kehidupan namanya jika hanya satu dimensi. Kehidupan akan sempurna dan indah bila telah melewati serangkaian untaian butiran suka, duka, derita, bahagia, gembira, gagal, sukses, pasang, surut.

Untuk melewati semua itu, dibutuhkan keberanian, kesabaran, kekuatan, dan perjuangan untuk terus meniti, berjalan, mendaki. Sebab, seperti tasbih yang melingkar, kehidupan pun demikian. Kemana pun akan pergi dan berlari, tetap masih dalam lingkaran takdir Allah. Dari-Nya, kehidupan dimulai dan kepada-Nya akan berakhir.

Cinta.
Cinta adalah sisi lain yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Tasbih adalah keutuhan yang diikat pada sebuah simpul. Hal itu dilakukan agar butiran-butiran kecil dapat menyatu, saling tertautan, seimbang, dan bila dilihat tampak indah. Cinta juga akan menjadi indah jika diterima sebagai sebuah keutuhan. Mencintai adalah aktivitas berat yang membutuhkan keberanian untuk menerima yang dicintai dengan utuh. Sisi kelebihan, sudah pasti mudah menerimanya. Tapi, bagaimana sisi lainnya yang pasti ada : kekurangan, kelemahan. Semudah itukah menerimanya?

Agar cinta juga menjadi abadi dan kuat, dibutuhkan kesediaan dua ujungnya untuk diikat dalam satu simpul yang kokoh. Tanpa ikatan, tanpa simpul, cinta akan terburai menjadi butir-butir egoisme yang tercerai berai.

Karena cinta adalah kebahagiaan, maka tak perlu ada air mata. Sebab, cinta adalah perjuangan, maka perpisahan adalah senyum yang tertunda.

Cinta tidak pernah salah, sepanjang kamu berani jujur, dan berani menjalaninya. Tentu dengan resiko yang harus kamu tanggung.

Jika cintamu cinta sejati, maka cinta itu akan menuntunmu ke arah sana dengan sendirinya. Tanpa paksaan, tanpa rencana, apalagi pura-pura.

Jalan cinta adalah jalan rahasia yang tidak bisa dimengerti oleh siapapun, bahkan oleh yang mengalaminya sendiri.
Hanya Sang Pemberi Cinta yang tahu bahwa dua hati yang berdiri di belahan dunia yang berbeda bisa bertemu.
Hanya Sang Maha Cinta yang bisa menyatukan dua pribadi yang tumbuh dalam alam berlainan.

Aku merindukanmu sebagai belahan hati, penggenap hidup. Aku mencintaimu karena kutemukan cermin hidup di jiwamu. Aku tak kuasa menolak, sebab di pendengaranku terngiang ucapanmu, di penglihatanku terlihat wajahmu, dan di perasaanku tersimpan hatimu.

Rabbi …
jika cintaku Kau ciptakan untuk dia
tabahkan hatinya
teguhkan imannya
sucikan cintanya
lembutkan rindunya

Rabbi …
jika hatiku Kau ciptakan untuk dia
penuhi hatinya dengan kasih-Mu
terangi langkahnya dengan nur-Mu
bisikkan kedamaian dalam kegalauan
temani dia dalam kesepian

Rabbi …
kutitipkan cintaku pada-Mu untuknya
resapkan rinduku pada rindunya
mekarkan cintaku bersama cintanya
satukan hidupku dan hidupnya
dalam cinta-Mu
sebab, sungguh aku mencintainya karena-Mu

*Arikel ini dari dan untuk sahabatku, karena untuk saat ini aku belum pernah merasakan indahnya cinta yang dilukiskan dalam tasbih cinta. Semoga bagi yang sedang mengalami bahkan merasakan: “cinta tidak harus memiliki, tapi cinta niatkan untuk memberi yang “terbaik” untuk yang kita cintai”. Mari kita Imani QS Al-Baqarah:216, sungguh menakjubkan jawaban Allah.
*Untuk saat ini dan semoga istiqhomah, Aku ingin mendapatkan cintaNya yaitu sang maha penganugerah cinta

Mencintai, Rasionallah

Rasulullah s.a.w., pembawa cinta dan kesejahteraan, bersabda,
“Tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada yang lain; mencintai seseorang hanya karena Allah; benci untuk kembali kepada kekafiran, sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Suatu ketika para sahabat mendengar Rasulullah s.a.w. bermunajat kepada Tuhannya dengan memanjatkan doa,
“Ya Allah, aku minta kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu dan mencintai segala sesuatu yang mendekatkan kepada cinta-Mu.” (HR. Tirmidzi)

Cinta merupakan syarat bagi kesempurnaan iman. Rasulullah s.a.w. bersabda,
“Barangsiapa mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, maka sempurnalah imannya.” (HR. Abu Daud)

Rasulullah s.a.w. pernah bertanya kepada Abu Dzar, “Wahai Abu Dzar, apa tali iman yang paling kuat?” Dia menjawab,”Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Kemudian beliau bersabda,
“Setia kepada Allah dan cinta karena Allah.” (HR. Baihaki)

Thabrani meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda,
“Di antara tali iman yang paling kokoh ialah engkau mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.”

Dan banyak hadist-hadist yang lain yang menceritakan tentang cinta yang sengaja sebagai pembuka dari tulisan ini. Ya Cinta itu fitrah, dan Islam itu adalah agama fitrah, dan kita pasti akan merasakan cinta, mencinta, dan dicinta. Dengan tidak menafikan cinta Allah yang diberikan kepada kita yang tidak terhingga besarnya, ataupun cinta kita kepada Allah dan Rosulullah yang merupakan cinta utama, marilah kita mencoba mencerna jenis cinta yang merupakan derajat cinta dan mencinta terendah, yaitu mencinta lawan jenis atau jatuh cinta kepada seseorang yang bukan mahram kita.
Karena Islam adalah agama fitrah maka sebuah kefitrahan kalau kita pernah atau sedang mencintai dan menginginkan orang yang kita cintai bisa menjadi suami atau istri kita. Tapi apakah cinta kita benar-benar cinta yang karena Allah? Atau cinta yang hanya menuruti nafsu kita.
Sudah berapa banyak cerita-cerita cinta yang berakhir tragis karena membenarkan nafsunya, ada yang karena tidak direstui orang tuanya, ada yang karena salah satu tidak berkenan atau istilahnya “cintanya bertepuk sebelah tangan” tapi nekat dengan dalih cinta. Ataupun setelah nekat mencinta dan akhirnya menikah dengan hanya bermodalkan cinta, tetapi setelah berumahtangga bukan surga rumahtangga yang didapatnya tapi keluarga menjadi neraka dunia dan akhirnya berakhir tragis.
Tentu kita tidak menginginkan cinta-cinta yang berakhir tragis. Ada sebuah moto lama yang cocok kita gunakan: “Sedia payung sebelum hujan,” atau dalam ilmu kedokteran ada istilah yang juga patut kita gunakan: “Mencegah lebih mudah daripada mengobati”. Marilah kita rasional dan mencintai seseorang sehingga “tidak kehujanan karena sudah menyiapkan payung”, atau “tidak sakit” karena cinta. Dalam Islam kita sudah diajak untuk rasional yaitu kita diperintahkan mencari calon suami atau calon istri yang se-kufu atau sederajat dalam segala hal (ada sebagian ulama mengartikan se-Kufu hanya dalam hal Agamanya).
Sudah fitrah manusia dalam bermuamalat selalu menginginkan barang yang murah tapi berkualitas tinggi, tapi dalam kenyataannya sesuatu yang berkualitas tinggi adalah mahal. Sama dengan mencinta, kalau menginginkan seseorang yang seperti tuntutan Rasulullah yaitu: dari keturunan baik-baik, kaya, cantik/ganteng dan tentunya orang yang beriman, apakah kita juga punya hal untuk mendapat yang berkualitas seperti disebutkan tadi?. Saya jadi ingat ucapan seorang Ust, sewaktu diminta mencarikan jodoh seorang ahwat, beliau ditanya:”Ust, mohon saya dicarikan jodoh yang sholeh”, Ust, itu menjawab:”kalau ingin dapat yang sholeh harus shalihah dulu”. Nah jawaban Ust tadi apakah berlaku bagi syarat-syarat yang lain? Mungkin (fersiku) bagi sebagian cewek kalau ingin mendapatkan seorang laki-laki yang sesuai tuntutan Nabi bisa walaupun dia tidak mempunyai lengkap 4 kriteria tersebut yang penting dia teruji keshalihannya maka banyak laki-laki yang shalih, tampan, kaya, berketurunan baik-baik sangat mau untuk menjadikan istrinya. Tetapi bagi laki-laki yang nanti menjadi calon pemimpin dalam keluarga, menurut saya akan sangat sulit. Jadi (ini bagi calon Bapak) rasionallah dalam mencintai seseorang, lihat kemampuan diri. Mungkin yang paling pantas (bagi yang merasa tidak pantas) 4 kriteria ini adalah: 1. Salhihah,(yang paling utama), 2. Cantik (bukan rupa tetapi hatinya), 3. Kaya (bukan materi tapi hatinya), 4 dari keturunan baik-baik (kita semua adalah dari Nabi Adam yang merupakan keturunan yangn baik). Jadi jangan nekat.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb

Sumber:
1. Al_Hadist