SOLUSI MISKOMUNIKASI DAN MISPERSEPSI
Ada sebuah cerita ilustrasi antara kera dengan ikan. Kedua makhluk ini biasanya tiap pagi bercengkerama. Kera di atas pohon dan ikan di sungai bawah pohon. Suatu ketika terjadi banjir kiriman karena di daerah sebelah terjadi hujan. Air sungai meluap dan arusnya cukup deras. Si ikan meloncat-loncat mengimbangi derasnya air sungai. Dalam persepsi si kera, ikan tersebut minta tolong. Lalu ketika ikan meloncat keatas didekaplah ikan tersebut sambil berkata, “Tenanglah!engkau aman, selamat dalam dekapanku, kau tidak akan terhanyut oleh derasnya banjir sungai ini.” In short story, banjir mereda, arus sungai pun kembali tenang. Dan kera pun melepaskan ikan dari dekapannya ke sungai. Tetapi apa yang terjadi? ikan itu mati! Seperti kiasan ingin menyelamatkan, tetapi karena miskomunikasi dan salah persepsi, hasil yang dituai; fatal, mati!
Miskomunikasi di persahabatan maupun dikeluarga sering terjadi, bukan karena masalah idiologi yang berbeda atau bab mabda yang salah. Tetapi biasanya karena salah kata, beda persepsi dan beda hobi ini yang menjadi trouble. Dan ketika ingin memperbaiki tetapi salah menyampaikan meski berangkat dari perasaan cinta dan kasih sayang, bisa berubah permusuhan dan kebencian. Itikad yang baik tidak cukup untuk membawa perubahan yang baik meski perkara yang kita kemukakan seluruhnya baik.
Oleh karena itu mukjizat penutup segala Nabi adalah kata-kata yang terangkum dalam Al-Quran, bukan tongkat yang membelah lautan, atau kapal induk seperti Nabi Nuh dengan daya angkut ribuan ton, atau mukul jarak jauh sambil keluar asap. Bukan itu. Oleh karena itu anda akan selamat dalam hidup ini bukan karena mempunyai tongkat wasiat, bukan kuat dibakar api, kebal dll. Bukan itu, tetapi menggenggam dan menggigit Al-Quran yang dijadikan juklak dan juknis dalam hidup.
Dalam riwayat Tirmizdi dan Ibnu Majah Nabi Muhammad pernah bersabda,” Aku wasiatkan kepada kalian agar selalu bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan mentaatiNya walaupun yang memerintahkan kamu itu berasal dari seorang hamba, sesungguhnya barang siapa diantara kamu yang hidup pada masa itu, maka akan menjumpai banyak perselisihan, maka ketika itu kalian harus berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk sesudahku, pegang dan gigitlah dengan gigi gerahammu kuat-kuat. Dan sekali-kali janganlah menciptakan dan mengada-ada hal baru dalam agama (tidak ada bi’ah yang baik dalam hal akidah dan syariah; semua haram dan tercela), karena setiap pengadaan hal baru dalam bidang agama itu bid’ah dan setiap bid’ah sesat”. (HR. Muslim).
Begitu besarnya kekuatan kata, sampai-sampai Al-Qur’an memberi petunjuk tentang bagaimana mengungkapkannya. Secara prinsip, gunakan qaulan layyinan (perkataan yang menyentuh hati) bila menghadapi seperti Fir’aun, yang keras kepala, merasa paling benar, dan tidak mau disalahkan.
“Sesungguhnya kelembutan itu apabila ada pada sesuatu, ia akan memperindahnya, dan apabila tercabut dari sesuatu maka akan tercelalah dia.”(HR.Muslim).
Perubahan dari yang keliru menuju yang benar, dari yang tercela menuju kepada yang terpuji, dari yang jelek menuju kepada yang baik tidak bisa sekaligus. Tetapi butuh tahapan. Mulailah dari yang termudah, mulailah dari yang terkecil, mulailah dari sekarang, dan mulailah dari diri sendiri. Mengharapkan perubahan secara drastis, mengharapkan perubahan sosok seseorang menjadi pribadi yang ideal, sama halnya dengan menyuruh minum jatah obat flu satu minggu dalam sekali teguk. Tetapi sekalipun demikian, apabila anda sudah seratus kilo meter berjalan, sudah sedemikian jauh, jika sadar pada detik itu anda salah jalan atau tersesat, segeralah rubah haluan hidup anda detik itu juga dan langkah itu juga jadikan langkah terakhir untuk segera menempuh arah baru yang lurus dan benar.
Ledakan emosi acapkali bukan karena disebabkan perkara yanng besar. Kemarahan orang tua kepada anak bukan karena mereka nakal, tidak juga karena anak menetang kita. Anak yang belum dewasa tidak ada yanng menentang orang tua. Mereka hanya meniru perilaku orang tuanya. Bagaimana cara kita memandang peristiwa sangat mempengaruhi perilaku kita terhadap peristiwa itu. Alhasil, kita perlu hati-hati dalam soal cara memandang ini. Karena salah dalam cara memandang, anugerah bisa jadi bencana, nikmat bisa dianggap laknat.
Ada cerita anekdot, ketika beberapa orang wanita sedang serius membincangkan tipe suami ideal, sampailah kepada seorang yang menginginkan tipe suami yang ia harapkan, diantaranya; calon yang diharapkannya mampu menghiburnya dikala sumpeg, bisa bernyanyi, bila malam setia menemani di rumah, tidak pernah marah, dan bisa diam bila tidak ingin mendengarnya. ”Temannya menyela, ”saya kira yang kamu inginkan Televisi bukan suami.”(nyambung gak ya dengan pembahasan ini? hehehe…ben wes)
Sebagaimana membangun rumah, demikian juga dengan membangun rumahtangga dan persahabatan. Apabila pondasinya mantap maka bangunannya akan kokoh. Rumahku surgaku akan keluar dari penghuni rumah tersebut. Rumah surga bukan yang perabotan dan fasilitasnya lux dan lengkap, bukan rumah yang mewah dan bertingkat. Bukan minta segala sesuatu selalu ada dan tersedia. Kalau demikian halnya tentu tidak akan keluar dari mulut Nabi Muhammad; ’Rumahku Surgaku’ karena dirumah Nabi tidak ada perabotan yang bisa dikatakan mewah, alas tidurnya pelepah kurma yang disusun rapi dan selimutnya dari kulit binatang yang disemak.
Seseorang yang memandang persahabatan sebagai amal saleh untuk menabur kebajikan, hatinya akan lebih lapang memandang berbagai masalah. Seseorang yang menuntut pasangannya serba sempurna akan sering menuai kekecewaan. Semakin tinggi harapan, apabila kalau tidak realistis maka akan semakin besar kekecewaan yanng didapat. Dibalik kekurangan pasangan ataupun sahabat kita disisi yang lain mengandung banyak kelebihan (QS. An-Nisaa’:19)
Pada sebagian persahabatan menganggap bahwa masalah yang terjadi di dalam lika-liku persahabatan selalu membangkitkan kekecewaan. Sementara itu apa yang mengecewakannya, terkadang bukan teman kita yang tidak beres, melainkan karena pengharapan yang tidak seimbang. Seseorang hanya menabung harapan tanpa menyelaraskan dengan kewajaran.
Trouble di dalam persahabatan ataupun dalam keluarga sering terjadi karena masalah komunikasi yang tidak berjalan, mis komunikasi dan mis persepsi, oleh karena itu hindari hal-hal berikut:
1. Jangan memotong pembicaraan pasangan atau teman anda. Dengarkan, simak dan perhatikan uneg-uneg atau apa yang ingin diutarakan oleh pasangan atau teman anda tersebut, jangan dipotong pembicaraannya. Secara psikologis empati yang diberikan untuk mendengar telah menyelesaikan 50% masalah.
2. Jangan membuat pernyataan atau jawaban yang membingungkan sehingga sahabat atau pasangan kita akan buat persepsi sendiri karena ketidak lengkapan dan akuratnya pernyataan kita sewaktu ada masalah, apalagi setelah tau persepsi itu salah lalu membiarkannya tanpa ada penjelasan, akan semakin meyakinkan bahwa hal itu benar dan semakin memperbesar masalah.
3. Jangan menghakimi; ibarat baca buku, baru baca kata pengantar sudah menyimpulkan sekaligus memberi cap secara keseluruhan pada isi buku tersebut. Termasuk tidak bisa menentukan seseorang dari hanya sekedar melihat wajah dan penampilan untuk menentukan tabiat dan karakternya.
4. Jangan Over dosis nasehat; Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang tidak tepat, setiap ketemu dengan sahabat atau pasangan anda keluar petuah seakan tidak pernah benar, nasehat seperti itu akan berbalik menjadi keburukan. Petunjuk yang diterima dengan perasaan kesal akan diterima sebagai intimidasi dan ancaman.
5. Jangan berebut perhatian, berlomba berbicara dengan tanpa ingin saling mendengar apa yang diutarakan, akan semakin menahan dongkol bahkan akan saling meninggikan suara lebih heboh lagi. Ujungnya melahirkan kekecewaan yang melahirkan masalah baru.
6. Benar-benarlah tulus dalam bersahabat, jangan hanya mencari manfaat atau memanfaatkan untuk kepentingan sendiri. Bila tidak bermanfaat lupa bila menjadi sahabat. Ada sebuah pesan yang tertempel di pintu kamarku ” Tidak ada baiknya berteman dengan orang yang tidak menghargai hakmu sebagaimana engkau menghargai haknya.”
7. Jangan katakan atau melakukan perbuatan/bahasa tubuh yang menyatakan “Aku adalah sahabat terbaikmu tuk sekarang dan masa depan” bila kau tidak benar-benar tulus dan peduli. Jangan bicarakan soal perasaan-perasaan bila itu tidak benar-benar ada. Jangan kau sentuh hidup seseorang bila kau berniat mematahkan hati. Jangan menatap ke dalam mata bila apa yang kau kerjakan Cuma berbohong dan hanya ingin mendapatkan manfaat. Hal terkejam yang biasa dilakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta, padahal kau tidak berniat sama sekali tuk menerimanya saat dia terjatuh.*
8. Mari kembali pada Islam
* Dirangkum, ditambah dan diedit dari buletin Suara Pemuda Muhammadiyah Kab. Malang 2008
* Untuk sahabatku ”maafkan aku, atau cintai dan bencilah segala sesuatu karena Allah, pasti kamu tidak akan kecewa di kemudian hari” karena Dunia tidak mesti, tapi akhirat sudah menanti dengan pasti.
*Untuk Mbak ku, jazakumullah atas semua nasehat-nasehatmu selama ini.